Contoh Media Pembelajaran Non-Digital yang Mudah Dibuat Guru SD
Bahkan, untuk beberapa materi, media sederhana seperti potongan kertas, kartu, benda nyata, tutup botol, atau stik es krim justru dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dibandingkan media berbasis layar.
Bayangkan seorang guru sedang mengajarkan konsep perkalian kepada siswa kelas 2 atau 3 SD. Guru sebenarnya dapat menampilkan soal di layar, tetapi konsep seperti 3 × 4 akan lebih mudah dipahami sebagian siswa ketika mereka menyusun tiga kelompok yang masing-masing terdiri atas empat benda.
Tutup botol, kancing, atau stik es krim yang sangat sederhana dapat membantu siswa melihat bahwa perkalian bukan sekadar simbol, tetapi representasi dari kelompok benda.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa kualitas media pembelajaran tidak ditentukan oleh seberapa mahal atau canggih medianya.
Media yang baik adalah media yang membantu siswa melakukan aktivitas belajar yang diperlukan untuk memahami suatu konsep.
Lalu, apa yang dimaksud dengan media pembelajaran non-digital dan media apa saja yang mudah dibuat serta digunakan oleh guru SD?
Apa Itu Media Pembelajaran Non-Digital?
Media pembelajaran non-digital adalah media yang dapat digunakan dalam proses belajar tanpa bergantung pada perangkat atau teknologi digital.
Media ini dapat berupa:
benda nyata;
manipulatif;
flashcard;
kartu kata;
kartu angka;
gambar cetak;
poster;
model;
diorama;
puzzle;
papan permainan;
lembar kerja;
buku;
peta;
globe; dan
berbagai benda yang terdapat di lingkungan sekitar.
Media non-digital tidak berarti media yang kuno atau kurang inovatif.
Justru, dalam pembelajaran sekolah dasar, banyak media non-digital memungkinkan siswa untuk:
memegang;
memindahkan;
menyusun;
mengelompokkan;
mencocokkan;
membandingkan;
mengamati; dan
membuat sesuatu secara langsung.
Pengalaman seperti ini sangat penting ketika siswa sedang membangun pemahaman terhadap konsep yang masih abstrak.
Jika ingin memahami konsep media pembelajaran secara lebih luas, baca juga Apa Itu Media Pembelajaran? Panduan Dasar untuk Guru Sekolah Dasar.
Mengapa Media Non-Digital Masih Penting untuk Siswa SD?
Penggunaan teknologi memberikan banyak kemungkinan baru dalam pendidikan. Namun, teknologi bukan satu-satunya cara untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna.
Pada beberapa materi, siswa justru membutuhkan interaksi langsung dengan objek.
Misalnya:
Pecahan
Siswa dapat memegang dan membandingkan fraction tiles.
Pengukuran
Siswa dapat mengukur meja, buku, atau benda di kelas menggunakan penggaris atau meteran.
Bagian tumbuhan
Siswa dapat mengamati tanaman nyata.
Geometri
Siswa dapat menyusun bentuk menggunakan tangram atau geoboard.
Perkalian
Siswa dapat membuat kelompok benda menggunakan kancing atau tutup botol.
Aktivitas tersebut memberikan pengalaman konkret yang sulit digantikan sepenuhnya oleh gambar pada layar.
Namun, hal ini bukan berarti media non-digital selalu lebih baik daripada media digital.
Keduanya memiliki fungsi masing-masing.
Pembahasan mengenai perbedaannya dapat dibaca pada artikel Media Pembelajaran Digital dan Non-Digital: Mana yang Lebih Cocok untuk Anak SD?
Kelebihan Media Pembelajaran Non-Digital
Ada beberapa alasan mengapa guru tetap perlu mempertimbangkan penggunaan media non-digital.
1. Memberikan Pengalaman Konkret
Siswa dapat berinteraksi langsung dengan benda.
Mereka dapat melihat ukuran, bentuk, tekstur, posisi, jumlah, dan hubungan antara objek secara nyata.
2. Mudah Dibuat
Banyak media pembelajaran dapat dibuat menggunakan bahan sederhana yang tersedia di sekolah atau rumah.
Guru tidak selalu membutuhkan alat khusus.
3. Tidak Membutuhkan Internet
Media dapat digunakan meskipun sekolah memiliki keterbatasan internet atau perangkat digital.
4. Dapat Digunakan Secara Berkelompok
Kartu, puzzle, manipulatif, dan board game dapat mendorong siswa berdiskusi dan bekerja sama.
5. Fleksibel
Satu jenis media dapat digunakan untuk beberapa materi dengan sedikit modifikasi.
Flashcard kosong, misalnya, dapat digunakan untuk:
kosakata;
perkalian;
klasifikasi hewan;
bagian tumbuhan;
sinonim;
antonim;
pertanyaan kuis.
6. Dapat Mengurangi Distraksi Digital
Ketika aktivitas tidak membutuhkan perangkat, siswa dapat lebih fokus pada objek, teman, dan tugas yang sedang dikerjakan.
12 Contoh Media Pembelajaran Non-Digital yang Mudah Dibuat Guru SD
Berikut beberapa media sederhana yang dapat dikembangkan dan digunakan guru.
1. Flashcard
Flashcard merupakan salah satu media pembelajaran paling sederhana dan fleksibel.
Guru dapat membuatnya menggunakan:
kertas karton;
kertas tebal;
gambar cetak;
spidol;
laminating jika diperlukan.
Flashcard dapat berisi:
gambar;
kata;
angka;
pertanyaan;
simbol;
informasi singkat.
Contoh penggunaan di kelas
Dalam Bahasa Inggris:
Dalam Matematika:
Dalam IPA:
Flashcard tidak harus digunakan dengan cara guru menunjukkan kartu kemudian siswa menjawab.
Guru juga dapat menggunakannya untuk aktivitas:
matching;
sorting;
memory game;
tebak kata;
kuis kelompok;
mencari pasangan.
Dengan demikian, media sederhana berubah menjadi aktivitas belajar yang melibatkan siswa.
2. Kartu Klasifikasi atau Sorting Cards
Sorting cards adalah sekumpulan kartu yang harus dikelompokkan siswa berdasarkan karakteristik tertentu.
Media ini sangat mudah dibuat tetapi dapat menghasilkan diskusi yang cukup mendalam.
Contoh IPA
Guru menyediakan kartu:
ikan;
ayam;
kucing;
kupu-kupu;
sapi;
hiu;
burung.
Siswa diminta mengelompokkannya berdasarkan:
habitat;
cara berkembang biak;
cara bergerak;
makanan.
Hal yang menarik adalah satu set kartu dapat menghasilkan beberapa cara klasifikasi.
Guru dapat bertanya:
“Mengapa kartu ini kalian tempatkan dalam kelompok tersebut?”
Pertanyaan tersebut membuat siswa tidak sekadar mengelompokkan, tetapi juga menjelaskan dasar pemikirannya.
3. Tutup Botol sebagai Manipulatif Matematika
Tutup botol merupakan contoh benda sederhana yang dapat dijadikan media pembelajaran.
Guru dapat mengumpulkan tutup botol dengan beberapa warna dan menggunakannya untuk:
berhitung;
penjumlahan;
pengurangan;
perkalian;
pembagian;
pola;
pengelompokan;
pecahan sederhana.
Contoh perkalian
Untuk menjelaskan:
4 × 3
siswa dapat membuat empat kelompok yang masing-masing berisi tiga tutup botol.
Kemudian siswa menghitung jumlah seluruh benda.
Aktivitas ini membantu menghubungkan simbol:
4 × 3
dengan konsep:
4 kelompok yang masing-masing berisi 3 benda.
Guru dapat menggunakan kancing, batu kecil, atau benda lain jika tutup botol tidak tersedia.
4. Stik Es Krim
Stik es krim dapat digunakan untuk banyak aktivitas.
Contohnya:
berhitung;
nilai tempat;
membuat bentuk geometri;
membuat pola;
mengundi pertanyaan;
memilih nama siswa;
menyusun kata;
membuat model.
Contoh nilai tempat
Siswa dapat mengikat sepuluh stik menjadi satu kelompok.
1 stik = 1 satuan
10 stik = 1 puluhan
Media ini membantu siswa melihat hubungan antara satuan dan puluhan sebelum menggunakan angka secara abstrak.
5. Fraction Tiles dari Kertas
Guru tidak harus membeli fraction tiles.
Media ini dapat dibuat menggunakan:
kertas warna;
karton;
gunting;
penggaris.
Buat beberapa strip dengan panjang yang sama.
Kemudian bagi menjadi:
1 bagian;
2 bagian;
3 bagian;
4 bagian;
6 bagian;
8 bagian.
Beri label:
1, 1/2, 1/3, 1/4, 1/6, dan 1/8.
Aktivitas
Minta siswa menjawab pertanyaan:
Apakah 1/2 lebih besar daripada 1/4?
Jangan langsung meminta mereka menggunakan rumus.
Biarkan siswa membandingkan potongan secara langsung.
Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan:
Berapa banyak 1/4 yang dibutuhkan untuk membuat satu utuh?
Media ini sangat berguna sebagai jembatan dari pengalaman konkret menuju representasi simbolik.
6. Papan Nilai Tempat
Papan nilai tempat dapat dibuat menggunakan karton.
Buat beberapa kolom:
| Ratusan | Puluhan | Satuan |
|---|
Siswa kemudian menggunakan:
kartu angka;
stik;
tutup botol;
benda manipulatif
untuk membentuk bilangan tertentu.
Misalnya:
245
Siswa menempatkan:
2 pada ratusan;
4 pada puluhan;
5 pada satuan.
Media ini juga dapat dikembangkan menjadi:
ribuan;
desimal;
operasi penjumlahan;
operasi pengurangan.
7. Tangram
Tangram terdiri atas tujuh potongan bentuk geometri yang dapat disusun menjadi berbagai bentuk.
Guru dapat membuat tangram dari:
karton;
kertas tebal;
busa EVA.
Tangram dapat digunakan untuk mempelajari:
bentuk geometri;
rotasi;
posisi;
simetri;
luas;
kreativitas;
pemecahan masalah.
Tantangan
Minta siswa membuat:
rumah;
hewan;
manusia;
kapal
menggunakan seluruh bagian tangram.
Setelah selesai, siswa dapat menjelaskan bentuk geometri apa saja yang digunakan.
8. Geoboard Sederhana
Geoboard dapat dibuat menggunakan papan kecil dan paku, atau versi yang lebih aman menggunakan bahan lain yang memungkinkan karet diregangkan.
Siswa menggunakan karet gelang untuk membentuk:
persegi;
persegi panjang;
segitiga;
bentuk tidak beraturan.
Media ini dapat digunakan untuk membahas:
bentuk;
sisi;
sudut;
keliling;
luas;
simetri.
Jika sekolah belum memiliki geoboard, guru juga dapat membuat versi kertas menggunakan titik-titik grid sebagai alternatif.
9. Puzzle
Puzzle tidak harus berupa gambar karakter.
Guru dapat membuat puzzle konsep.
Contohnya:
Sistem pencernaan
Potongan puzzle membentuk sistem organ manusia.
Peta Indonesia
Siswa menyusun beberapa wilayah.
Pecahan
Siswa mencocokkan:
1/2
dengan:
gambar setengah lingkaran.
Kosakata
Siswa mencocokkan:
kata
dengan:
gambar atau definisinya.
Puzzle dapat membuat siswa melakukan aktivitas pencocokan dan melihat hubungan antara bagian-bagian informasi.
10. Diorama
Diorama adalah model tiga dimensi yang menggambarkan suatu lingkungan atau peristiwa.
Guru dan siswa dapat membuat diorama dari:
kardus bekas;
kertas;
clay;
stik;
bahan alam.
Contoh topik:
ekosistem;
rantai makanan;
lingkungan;
tata surya;
rumah adat;
kehidupan masyarakat;
siklus air.
Saya lebih menyarankan diorama digunakan sebagai aktivitas siswa, bukan seluruhnya dibuat oleh guru.
Misalnya, siswa bekerja berkelompok membuat diorama ekosistem.
Selanjutnya mereka menjelaskan:
komponen biotik;
komponen abiotik;
hubungan antarmakhluk hidup.
Proses membuat medianya juga menjadi bagian dari pembelajaran.
11. Board Game Edukatif
Permainan papan dapat menjadi media belajar yang sangat fleksibel.
Guru dapat membuat permainan seperti:
ular tangga;
jalur petualangan;
race game;
trivia board;
treasure hunt.
Setiap kotak dapat berisi:
pertanyaan;
tantangan;
masalah;
instruksi;
kartu bonus.
Contoh Matematika
Siswa melempar dadu kemudian bergerak.
Jika berhenti di kotak tertentu, mereka mendapat pertanyaan:
3/4 + 1/4 = ?
atau:
Sebutkan dua faktor dari 24.
Namun, hindari membuat game hanya menjadi lembar soal yang dipindahkan ke papan permainan.
Guru dapat menambahkan aktivitas:
memilih strategi;
menjelaskan alasan;
bekerja sama;
memperbaiki jawaban teman.
Dengan demikian, permainan tetap memiliki nilai pedagogis.
12. Benda Nyata dari Lingkungan Sekitar
Salah satu media terbaik sering kali sudah tersedia di sekitar siswa.
Contohnya:
daun;
bunga;
batu;
tanah;
air;
buah;
kemasan makanan;
uang mainan atau contoh uang;
alat ukur;
benda di kelas.
Contoh IPA
Saat belajar struktur daun, siswa dapat mengamati beberapa jenis daun.
Minta mereka membandingkan:
bentuk;
ukuran;
warna;
tekstur;
tulang daun.
Kemudian siswa dapat mengelompokkannya berdasarkan karakteristik tertentu.
Media sederhana seperti ini memberikan pengalaman observasi yang lebih nyata dibandingkan hanya melihat gambar di buku.
Ringkasan Media Non-Digital untuk Berbagai Mata Pelajaran
| Mata Pelajaran | Media | Contoh Aktivitas |
|---|---|---|
| Matematika | Tutup botol | Operasi hitung |
| Matematika | Fraction tiles | Membandingkan pecahan |
| Matematika | Tangram | Geometri |
| Matematika | Geoboard | Bentuk dan luas |
| IPA | Benda nyata | Observasi |
| IPA | Sorting cards | Klasifikasi |
| IPA | Diorama | Ekosistem |
| Bahasa Indonesia | Kartu kata | Menyusun kalimat |
| Bahasa Inggris | Flashcard | Kosakata |
| IPS | Peta/puzzle | Wilayah |
| Berbagai mata pelajaran | Board game | Review materi |
Tabel tersebut menunjukkan bahwa satu media dapat digunakan untuk lebih dari satu mata pelajaran.
Hal yang menentukan adalah aktivitas yang dirancang guru.
Bagaimana Membuat Media Non-Digital yang Efektif?
Media yang indah belum tentu efektif.
Sebelum membuat media, guru dapat menggunakan beberapa pertimbangan berikut.
1. Mulai dari Tujuan Pembelajaran
Jangan mulai dengan:
“Saya ingin membuat flashcard.”
Mulailah dengan:
“Apa yang harus mampu dilakukan siswa?”
Misalnya:
Siswa mampu mengelompokkan hewan berdasarkan habitat.
Barulah guru memutuskan bahwa sorting cards dapat membantu aktivitas tersebut.
2. Tentukan Aktivitas Siswa
Tanyakan:
Apa yang akan dilakukan siswa dengan media?
Apakah:
melihat;
mengurutkan;
mencocokkan;
memindahkan;
mengukur;
mengklasifikasi;
membandingkan;
menjelaskan?
Semakin jelas aktivitasnya, semakin mudah menilai apakah medianya sesuai.
3. Buat Sederhana
Jangan terlalu banyak:
warna;
tulisan;
dekorasi;
gambar yang tidak relevan.
Media dibuat untuk membantu siswa memperhatikan informasi penting.
Bukan untuk menunjukkan kemampuan desain guru.
4. Gunakan Bahan yang Aman
Untuk siswa SD, pertimbangkan keamanan.
Hindari:
benda tajam;
bahan beracun;
benda yang terlalu kecil untuk siswa usia rendah;
material yang mudah pecah.
5. Buat Media yang Dapat Digunakan Kembali
Jika memungkinkan:
laminasi kartu;
gunakan bahan yang lebih tebal;
simpan dalam kotak;
beri label.
Media yang dapat digunakan berulang akan lebih efisien.
Media yang Murah Tidak Berarti Kurang Berkualitas
Ada kecenderungan menganggap bahwa pembelajaran inovatif harus menggunakan:
tablet;
smartboard;
aplikasi berbayar;
teknologi terbaru.
Padahal inovasi tidak selalu datang dari alat.
Guru dapat menggunakan:
20 tutup botol
dan menghasilkan aktivitas Matematika yang membuat siswa membangun konsep.
Sebaliknya, guru dapat menggunakan teknologi mahal tetapi hanya meminta siswa menonton secara pasif.
Karena itu:
Nilai sebuah media terletak pada pengalaman belajar yang diciptakannya, bukan pada harga medianya.
Prinsip ini penting terutama bagi sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas.
Keterbatasan teknologi tidak berarti guru tidak dapat menciptakan pembelajaran yang berkualitas.
Media Non-Digital atau Digital: Mana yang Sebaiknya Dipilih?
Tidak perlu menjadikan keduanya sebagai pilihan yang saling bertentangan.
Pertimbangkan kebutuhan pembelajaran.
Gunakan media non-digital ketika siswa perlu:
memegang benda;
mengamati objek nyata;
memanipulasi;
mengukur;
menyusun;
membuat;
berinteraksi langsung;
belajar tanpa bergantung pada perangkat.
Pertimbangkan media digital ketika siswa perlu:
melihat proses dinamis;
melakukan simulasi;
mengakses multimedia;
memperoleh feedback otomatis;
mengamati sesuatu yang sulit dilihat secara langsung.
Dalam banyak situasi, keduanya dapat dikombinasikan.
Misalnya dalam pembelajaran sistem pencernaan:
model organ → membantu melihat posisi organ.
video animasi → membantu melihat perjalanan makanan.
sorting cards → membantu mengurutkan proses.
kuis digital → membantu melakukan asesmen formatif.
Media digunakan berdasarkan fungsi, bukan berdasarkan kategori digital atau non-digital.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Membuat Media Terlalu Rumit
Guru dapat menghabiskan berjam-jam membuat media yang sebenarnya hanya digunakan lima menit.
Pertimbangkan apakah waktu pembuatan sebanding dengan manfaatnya.
Terlalu Fokus pada Dekorasi
Media yang terlalu ramai dapat mengganggu perhatian siswa.
Media Hanya Digunakan Guru
Jika memungkinkan, desain media agar siswa dapat berinteraksi dengannya.
Jangan semua benda hanya dipegang guru di depan kelas.
Tidak Menghubungkan Media dengan Tujuan Pembelajaran
Media bukan kegiatan tambahan.
Media harus membantu tercapainya tujuan.
Terlalu Banyak Media dalam Satu Pembelajaran
Satu media yang digunakan secara mendalam dapat lebih bermanfaat daripada lima media yang digunakan tanpa tujuan jelas.
Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Media Pembelajaran Non-Digital
Apa yang dimaksud media pembelajaran non-digital?
Media pembelajaran non-digital adalah media yang dapat digunakan untuk membantu proses belajar tanpa bergantung pada perangkat atau teknologi digital.
Apa contoh media pembelajaran non-digital?
Contohnya flashcard, benda nyata, manipulatif, model, poster, tangram, geoboard, board game, puzzle, diorama, kartu kata, dan lembar kerja.
Apakah media non-digital masih relevan?
Ya. Media non-digital sangat relevan terutama ketika siswa membutuhkan pengalaman konkret, manipulasi benda, observasi langsung, atau interaksi dengan teman.
Apa media pembelajaran sederhana yang bisa dibuat dari barang bekas?
Guru dapat menggunakan kardus, tutup botol, stik es krim, kertas bekas, kemasan, atau bahan lain yang aman untuk membuat manipulatif, kartu, board game, model, dan diorama.
Apakah video termasuk media non-digital?
Video pada umumnya termasuk media berbasis teknologi atau media digital ketika disimpan, diputar, dan diakses melalui perangkat digital. Karena itu, dalam pengelompokan praktis pada artikel ini, video ditempatkan sebagai media digital, bukan media non-digital.
Media apa yang cocok untuk Matematika SD?
Contohnya fraction tiles, base ten blocks, tutup botol, tangram, geoboard, kartu angka, papan nilai tempat, dan berbagai manipulatif lainnya.
Apakah media yang dibuat guru harus terlihat profesional?
Tidak. Media harus jelas, aman, mudah digunakan, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tampilan yang sederhana tidak menjadi masalah selama membantu siswa belajar.
Kesimpulan
Media pembelajaran non-digital tetap memiliki peran penting dalam pembelajaran sekolah dasar.
Media seperti:
flashcard;
sorting cards;
tutup botol;
stik es krim;
fraction tiles;
papan nilai tempat;
tangram;
geoboard;
puzzle;
diorama;
board game; dan
benda nyata
dapat digunakan untuk menciptakan berbagai aktivitas belajar tanpa membutuhkan teknologi digital.
Namun, media yang baik bukan sekadar media yang berhasil dibuat oleh guru.
Media menjadi bermakna ketika siswa melakukan sesuatu dengannya.
Mereka dapat:
mengamati;
membandingkan;
mengelompokkan;
memindahkan;
menyusun;
mengukur;
berdiskusi;
memecahkan masalah; dan
menjelaskan.
Karena itu, sebelum membuat media, jangan mulai dengan pertanyaan:
“Media apa yang menarik untuk saya buat?”
Mulailah dengan:
“Apa yang perlu dilakukan siswa agar mereka memahami konsep ini?”
Dari sana guru dapat menentukan apakah media terbaik berupa aplikasi digital, benda konkret, beberapa lembar kartu, atau bahkan hanya beberapa tutup botol.
Media terbaik bukanlah media yang paling mahal atau paling modern. Media terbaik adalah media yang paling membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk memperdalam pembahasan, baca juga Apa Itu Media Pembelajaran? Panduan Dasar untuk Guru Sekolah Dasar, 7 Fungsi Media Pembelajaran di Sekolah Dasar dan Contoh Penerapannya, serta Media Pembelajaran Digital dan Non-Digital: Mana yang Lebih Cocok untuk Anak SD?
Tentang Penulis
Ainun Najib Alfatih, M.Ed. adalah dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan praktisi pendidikan yang memiliki perhatian pada media pembelajaran, teknologi pendidikan, computational thinking, literasi digital, Artificial Intelligence dalam pendidikan, dan integrasi teknologi dalam pembelajaran sekolah dasar.
Melalui Edoemedia, ia berbagi konsep, pengalaman, ide, serta panduan praktis untuk membantu guru dan calon guru merancang pembelajaran dengan menempatkan tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa sebagai pertimbangan utama.